Nikmatnya Mencari
Ilmu dan Indahnya Berbagi Pengetahuan
Ilmu adalah cahaya kehidupan. Ilmu ibarat cahaya yang menyinari dalam
kegelapan yang menunjukkan arah menuju jalan yang ditempuh. Tanpa ilmu
seseorang akan tersesat jauh ke dalam jurang kebodohan.
Dengan ilmu pengetahuan jarak yang jauh terasa dekat, waktu yang lama terasa singkat, pekerjaan yang berat menjadi ringan. Dengan ilmu manusia memperoleh segala yang ia cita-citakan. Ilmu adalah sumber kehidupan. Alam raya yang Allah Swt. ciptakan ini, penuh dengan berbagai macam rahasia yang dikandungnya. Bumi, langit, laut, dan yang ada di sekitarnya adalah bagian dari alam raya yang harus dimanfaatkan untuk kepentingan bersama. Bagaimana dapat mengetahui rahasia yang ada di perut bumi, di dalam lautan, dan di ruang angkasa jika tidak melalui ilmu pengetahuan? Oleh karena itu, sungguhlah tepat Allah Swt. menjadikan manusia sebagai wakil-Nya di muka bumi ini, karena manusia memiliki potensi pengetahuan untuk mengelola, mengurus, dan memanfaatkan alam raya yang Allah Swt. ciptakan. Agama Islam memandang bahwa ilmu pengetahuan adalah hal yang sangat penting. Orang-orang yang memiliki pengetahuan Allah Swt. Menjanjikan dengan derajat yang tinggi di sisi-Nya, apalagi di sisi manusia lainnya. Demikian pula Rasulullah saw. yang menganjurkan setiap umat Islam agar menuntut ilmu setinggi-tingginya. Rasulullah Saw. menyatakan bahwa orang-orang yang menuntut ilmu sama besar pahalanya dengan orang yang berjihad di jalan Allah Swt. Bahkan Rasululloh saw. memerintahkan agar menuntut ilmu tidak hanya dilakukan di negeri terdekat saja, tetapi Allah Swt. memerintahkan mencari ilmu walau harus dengan jarak yang sangat jauh. “Carilah ilmu hingga ke negeri Cina!” Demikian sabdanya sebagai motivasi kepada umat Islam untuk selalu bersemangat dalam menuntut ilmu.
Di zaman yang serba cepat, canggih, dan serba praktis ini, seseorang dituntut untuk dapat memanfaatkan kecanggihan hasil rekayasa manusia dalam bidang teknologi dengan sebaik-baiknya. Betapa tidak, tanpa mempedulikan hal tersebut, seseorang akan tertinggal jauh ke belakang dalam melakukan kegiatan-kegiatan sosial kemanusiaan. Selain itu, kemampuan menguasai dan menggunakan perangkat teknologi dapat terhindar dari upayaupaya jahat yang dapat merugikan dirinya, seperti penipuan, pemerkosaan, penganiayaan, dan sebagainya. Sebagai contoh, Pak Sulaiman Lubis adalah seorang trainer yang memiliki pengalaman memberikan pelatihan ke berbagai kota di dalam dan luar Pulau Jawa. Suatu ketika, ia diundang untuk memberikan pelatihan di sebuah kota di Kalimantan Timur. Karena undangan yang mendadak, ia pun tidak sempat mempersiapkan materi yang cocok yang akan ia sampaikan. Walau demikian, ia tidak kehabisan akal untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Dalam perjalanan udara menuju kota tujuan, ia sempatkan untuk membuat bahan presentasi dengan mencari sumber dari internet dan merancang materinya menggunakan laptop yang memang selalu ia bawa kemana pun pergi. Setelah pesawat yang ia tumpangi mendarat, seketika ia mengaktifkan kembali telepon genggamnya. Saat diaktifkan, ia mendapatkan sebuah pesan yang masuk ke telepon genggamnya, dan ketika dibuka ternyata isi pesannya adalah agar ia segera mentransfer sejumlah uang untuk keperluan kuliah putranya di Kota Yogyakarta. Tidak berpikir panjang, ia pun segera mengirimkannya menggunakan layanan sms banking melalui telepon genggamnya sendiri.
A. Memahami Makna
Menuntut Ilmu dan Keutamaannya
1. Kewajiban Menuntut
Ilmu
Menuntut
ilmu atau belajar adalah kewajiban setiap orang Islam. Banyak sekali ayat
al-Qur’ān atau hadis Rasulullah saw. yang menjelaskan tentang kewajiban
belajar, baik kewajiban tersebut ditujukan kepada lakilaki maupun perempuan.
Bahkan wahyu pertama yang diterima Nabi saw. adalah perintah untuk embaca atau belajar. “Bacalah dengan
(menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena.
Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Q.S. al-‘Alaq/96:1-5)
Kewajiban
menuntut ilmu bagi laki-laki dan perempuan menandakan bahwa agama Islam tidak membeda-bedakan hak dan kewajiban manusia karena
jenis kelaminnya. Walau memang ada beberapa kewajiban yang diperintahkan Allah
Swt. dan Rasul-Nya yang membedakan lak-laki dengan perempuan. Akan tetapi,
dalam menuntut ilmu semua memiliki kewajiban dan hak yang sama antara laki-laki
dan perempuan. Laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai khalifah di muka bumi
dan sebagai hamba (‘abid). Untuk menjadi khalifah yang sukses, maka sudah barang
tentu membutuhkan ilmu pengetahuan yang memadai. Bagaimana mungkin seseorang
dapat mengelola dan merekayasa kehidupan di bumi ini tanpa bekal ilmu
pengetahuan. Demikian pula sebagai hamba, untuk mencapai tingkat keyakinan keimanan) tertinggi kepada Allah Swt. Dan makhluk-makhluk-Nya
yang gaib dibutuhkan ilmu pengetahuan yang luas.
Menuntut ilmu juga tidak dibatasi oleh jarak dan waktu. Mengenai jarak, ada ungkapan yang menyatakan bahwa tuntutlah ilmu walau hingga ke negeri Cina. Demikian pula dalam hal waktu, Islam mengajarkan bahwa menuntut ilmu itu dimulai sejak lahir hingga liang lahat.
2. Hukum Menuntut Ilmu
Istilah ilmu mencakup seluruh pengetahuan yang tidak diketahui manusia, baik yang bermanfaat maupun yang tidak bermanfaat. Untuk ilmu yang tidak bermanfaat, haram, dan berdosa bagi orang yang mempelajarinya, baik sukses maupun gagal. Adapun ilmu yang bermanfaat,maka wajib dituntut dan dipelajari. Hukum menuntut ilmu-ilmu wajib itu terbagi atas dua bagian, yaitu fardu kifayah dan fardu ‘ain.
a. Fardu Kifayah
Hukum menuntut ilmu fardu kifayah berlaku untuk ilmu-ilmu yang harus ada di kalangan umat Islam sebagaimana juga dimiliki dan dikuasai golongan kafir. Seperti ilmu kedokteran, perindustrian, ilmu falaq, ilmu eksakta, serta ilmu-ilmu lainnya.
b. Fardu ‘Ain
Hukum mencari ilmu
menjadi fardu ‘ain jika ilmu itu tidak boleh ditinggalkan oleh setiap muslim
dan muslimah dalam segala situasi dan kondisi, seperti ilmu mengenal Allah Swt.
dengan segala sifat-Nya, ilmu tentang tatacara beribadah, dan sebagainya.
3. Keutamaan Orang
yang Menuntut Ilmu
Orang-orang yang
menuntut ilmu dan mengajarkannya diberikan keutamaan oleh Allah Swt. dan
Rasul-Nya dengan derajat yang tinggi di sisi Allah Swt. Di antara
keutamaan-keutamaan orang yang menuntut ilmu dan yang mengajarkannya adalah
sebagai berikut.
a. Diberikan derajat
yang tinggi di sisi Allah Swt.
“Dan Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat.Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. al-Mujadillah/58:11)
b. Diberikan pahala
yang besar di hari kiamat nanti
Dari Anas bin Malik ra.
Rasulullah saw. bersabda, “Penuntut ilmu adalah penuntut rahmat, dan penuntut
ilmu adalah pilar Islam dan akan diberikan pahalanya bersama para nabi.” (H.R.
ad-Dailami)
c. Merupakan sedekah
yang paling utama
Dari Abu Hurairah bahwa
Rasulullah saw. bersabda, “Sedekah yang paling utama adalah jika seorang muslim
mempelajari ilmu dan mengajarkannya kepada saudaranya sesama muslim.” (H.R.
Ibnu Majah)
d. Lebih utama
daripada seorang ahli ibadah
Dari Ali bin Abi Talib
ra. Rasulullah saw. bersabda, “Seorang alim yang dapat mengambil manfaat dari
ilmunya, lebih baik dari seribu orang ahli ibadah.” (H.R. ad-Dailami)
e. Lebih utama dari śalat
seribu raka’at
Dari Abu Żarr, Rasulullah saw. bersabda, “Wahai Aba ªarr, kamu pergi mengajarkan ayat dari Kitabullah telah baik bagimu daripada śalat (sunnah) seratus rakaat, dan pergi mengajarkan satu bab ilmu pengetahuan baik dilaksanakan atau tidak, itu lebih baik daripada śalat seribu rakaat.” (H.R. Ibnu Majah)
f. Diberikan pahala
seperti pahala orang yang sedang berjihad di jalan Allah
Dari Ibnu Abbas ra.
Rasulullah saw. bersabda, “Bepergian ketika pagi dan sore guna menuntut ilmu
adalah lebih utama daripada berjihad fi sabilillah.” (H.R. ad-Dailami)
g. Dinaungi oleh
malaikat pembawa rahmat dan dimudahkan menuju surga
Dari Abu Hurairah,
Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah sekumpulan orang yang berkumpul di suatu
rumah dari rumah-rumah (masjid) Allah ‘Azza wa Jalla, mereka mempelajari kitab
Allah dan mengkaji di antara mereka, melainkan malaikat mengelilingi dan
menyelubungi mereka dengan rahmat, dan Allah menyebut mereka di antara
orang-orang yang ada di sisi-Nya. Dan tidaklah seorang meniti suatu jalan untuk
menuntut ilmu melainkan Allah memudahkan jalan baginya menuju surga.” (H.R.
Muslim dan Ahmad)
B. Ayat-Ayat Al-Qur’ān tentang Ilmu Pengetahuan
Q.S.
at-Taubah/9:122
1. Lafal Ayat dan Artinya
Artinya: “Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan diantara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.”
2. Hukum Tajwid
3. Kandungan Ayat
Dalam ayat tersebut, Allah Swt. menerangkan bahwa tidak perlu semua orang mukmin berangkat ke medan perang, apabila peperangan itu dapat dilakukan oleh sebagian kaum muslimin saja. Tetapi harus ada pembagian tugas dalam masyarakat, sebagian berangkat ke medan perang, dan sebagian lagi tekun menuntut ilmu dan mendalami ilmu-ilmu agama Islam supaya ajaran-ajaran agama itu dapat diajarkan secara merata, dan dakwah dapat dilakukan dengan cara yang lebih efektif serta bermanfaat serta kecerdasan umat Islam dapat ditingkatkan. Orang-orang yang berjuang di bidang pengetahuan, oleh agama Islam disamakan nilainya dengan orang-orang yang berjuang di medan perang. Dalam hal ini Rasulullah saw. telah bersabda yang artinya, “Dari Anas bin Malik berkata, Rasulullah saw. bersabda, ‘Di akhirat nanti tinta ulama ditimbang dengan darah para syuhada. Ternyata yang lebih berat adalah tinta ulama dibandingkan dengan darah syuhada”. (H.R. Ibnu Najar)
Tugas umat Islam adalah untuk mempelajari agamanya, serta mengamalkannya dengan baik, kemudian menyampaikan pengetahuan agama itu kepada yang belum mengetahuinya. Tugas-tugas tersebut merupakan tugas umat dan tugas setiap pribadi muslim sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan masing-masing, karena Rasulullah saw. telah bersabda; Artinya: “Dari ‘Abdullah bin Amru, sesungguhnya Nabi saw. bersabda;
“Sampaikanlah olehmu (apa-apa yang telah kamu peroleh) dariku walaupun hanya satu ayat al-Qur’ān”. (H.R. Bukhari)
Apabila umat Islam telah memahami ajaran-ajaran agamanya, dan telah
mengerti hukum halal dan haram, serta perintah dan larangan agama, tentulah
mereka akan lebih dapat menjaga diri dari kesesatan dan kemaksiatan. Selain
itu, dapat melaksanakan perintah agama dengan baik dan dapat menjauhi
larangan-Nya. Dengan demikian, umat Islam menjadi umat yang baik, sejahtera di
dunia dan di akhirat. Oleh karena ayat ini telah menetapkan bahwa fungsi ilmu
tersebut adalah untuk mencerdaskan umat, maka tidaklah dapat dibenarkan apabila
ada orang-orang Islam yang menuntut ilmu pengetahuannya hanya untuk mengejar
pangkat dan kedudukan atau keuntungan pribadi saja. Apalagi untuk menggunakan
ilmu pengetahuan sebagai kebanggaan dan kesombongan diri terhadap golongan yang
belum menerima pengetahuan.
C. Hadis
tentang Mencari Ilmu dan Keutamaannya
1. Hadis dari Ibnu Abd. Barr.
muslim. Dan sesungguhnya segala sesuatu hingga makhluk hidup di
lautan
memintakan ampun bagi penuntut ilmu” (H.R. Ibnu Abdul Barr)
Pesan-Pesan Mulia
Anak
dari Batu
Sebelum menjadi ulama besar yang sangat produktif dalam
menghasilkan berbagai karya, Ibnu Hajar saat masih menuntut ilmu terkenal
sebagai seorang anak yang bodoh dan bebal. Ia pernah merasa putus asa dan lari
dari tempat ia belajar karena merasa sangat tidak paham dengan ilmu yang
diberikan guru kepadanya. Semakin ia diberi penjelasan, maka semakin ia tidak
mengerti maksudnya. Waktunya lebih banyak untuk menyendiri dan merenung di
pinggir sungai. Pada saat merenung, mendadak ia tersentak oleh tetesan air pada
batuyang didudukinya itu. Ternyata pada satu sisi batu di mana air tersebut menetes,
terlihat ada lubang di sana. Dari situ kemudian tumbuh lagi semangatnya untuk belajar,
karena ia berkeyakinan jika batu saja dapat berlubang oleh tetesan air, tentu
hati manusia yang lunak akan tertembus pula oleh siraman ilmu pengetahuan.
Akhirnya sejarah mencatat Ibnu Hajar al-Asqalani sebagai ulama yang
hebat dan terkenal dengan keluasan ilmunya. Nama Ibnu Hajar sendiri secara
bahasa artinya “anak batu” karena erat kaitannya dengan legenda yang menyatakan
bahwa kegemilangannya dalam ilmu pengetahuan berawal dari terinspirasinya ia oleh
sebuah batu yang berlubang oleh tetesan air.
Menerapkan Perilaku Mulia
Perilaku yang mencerminkan sikap memahami Q.S. at-Taubah/9:122,
diantaranya tergambar dalam aktivitas-aktivitas sebagai berikut.
1. Jadilah orang yang berilmu (pandai), sehingga dengan
ilmu yang dimiliki seorang muslim dapat mengajarkan ilmu yang dimilikinya
kepada orangorang yang ada di sekitarnya. Dengan demikian kebodohan yang ada di
lingkungannya dapat terkikis habis dan berubah menjadi masyarakat yang
beradab dan memiliki wawasan yang luas.
2. Jika tidak dapat menjadi orang pandai yang mengajarkan
ilmunya kepada umat manusia, jadilah sebagai orang yang mau belajar dari
lingkungan sekitar dan dari orang-orang pandai.
3. Jika tidak dapat menjadi orang yang belajar, jadilah
sebagai orang yang mau mendengarkan ilmu pengetahuan. Setidaknya jika kita mau
mendengarkan ilmu pengetahun kita dapat mengambil hikmah dari materi yang kita dengar.
4. Jika menjadi pendengar juga masih tidak dapat, maka
jadilah sebagai orang yang menyukai ilmu pengetahun, di antaranya dengan cara
membantu dan memuliakan orang-orang yang berilmu, memfasilitasi aktivitas
keilmuan seperti menyediakan tempat untuk pelaksanaan pengajian dan lain-lain.
5. Janganlah menjadi orang yang kelima, yaitu yang tidak
berilmu, tidak belajar, tidak mau mendengar, dan tidak menyukai ilmu. Jika di
antara kita memilih yang kelima ini akan menjadi orang yang celaka.
Rangkuman
Q.S. at-Taubah/9:122 berisi
perintah jihad itu tidak hanya dipahami dengan mengangkat senjata, tetapi
memperdalam ilmu pengetahuan dan menyebarluaskannya juga termasuk ke dalam jihad.
1.
Fungsi ilmu adalah untuk mencerdaskan umat.
2.
Tidak dibenarkan menuntut ilmu pengetahuan hanya untuk mengejar pangkat dan
kedudukan atau keuntungan pribadi saja, apalagi untuk menggunakan ilmu
pengetahuan sebagai kebanggaan dan kesombongan diri.
3.
Pentingnya memperdalam ilmu pengetahuan, mengamalkannya dengan baik, dan
menyebarluaskannya.
4.
Ayat di atas menjadi acuan kita yang berhubungan dengan kewajiban belajar dan
mengajar. Terdapat beberapa sumber yang tentunya harus kita kaji lebih dalam
lagi, karena dari sekian kitab-kitab tafsir yang sudah ada ternyata berbeda
dalam penafsirannya. Namun pada pokoknya adalah hal-hal berikut.
a.
Kewajiban manusia untuk belajar dan mengajar agama.
b.
Ayat ini memberi anjuran tegas kepada umat Islam agar ada sebagian dari umat
Islam yang memperdalam agama.
c.
Pentingnya mencari ilmu juga mengamalkan ilmu.
d.
Pentingnya memperdalam ilmu dan menyebarluaskan informasi yang benar. Ia tidak
kurang penting dari upaya mempertahankan wilayah.
e.
Hendaklah jihad itu
dibagi kepada jihad bersenjata,
jihad memperdalam
ilmu pengetahuan, dan pengertian tentang agama.
f.
Antara jihad berperang
dan jihad memperdalam
ilmu agama keduanya penting serta keduanya saling mengisi.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar